Dialog Kebudayaan Bersama 10 Bupati/Wali Kota, Ketua PWI Pusat Berikan Apresiasi
Bupati Terima Anugerah Kebudayaan Dari PWI Pusat, Masyarakat Pesawaran Bangga
Medan (RN) – Masyarakat Kabupaten Pesawaran patut berbangga dengan khazanah budaya asal wilayah setempat, salah satunya dalam bentuk kerajinan tenun sulam jelujur.
Bahkan, kain tenun khas bumi andan jejama itu berhasil mewakili Provinsi Lampung dalam anugerah kebudayaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.
Kepala Dinas Kominfotiksan Pesawaran, Jayadi Yasa menyebut anugerah kebudayaan itu akan diterima oleh Bupati Dendi Ramadhona pada puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) Kamis 9 febuari 2023.
“Momentum perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2023 ini, Bupati Dendi Ramadhona akan menerima anugerah kebudayaan dari PWI Pusat bersama sembilan bupati/ walikota lain dari seluruh Indonesia,” kata Jayadi mewakili Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona usai dialog kebudayaan di Hotel Santika Dyandra, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (7-2-2023).
Ketua PWI Lampung, Wira Hadikusumah mengatakan penghargaan itu menjadi kebanggaan bagi warga provinsi setempat, sebab karya sulam jelujur telah menjadi warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal dari bumi ruwa jurai.
“Tentu ini menjadi kebanggan masyarakat Lampung, kami juga turut mengapresiasi atas penghargaan yang diterima Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona,” kata Wira.
Penghargaan anugerah kebudayan itu rencananya akan diserahkan oleh Ketua PWI Pusat Atal S Depari, didampingi Ketua PWI Lampung Wirahadikusumah serta Ketua PWI Kabupaten Pesawaran, M Ismail.
Selain itu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo juga turut menyaksikan penyerahan panghargaan tersebut.
“Sebelumnya Lampung juga telah menerima penghargaan anugerah kebudayaan yang diwakili oleh Bupati Tulangbawang Barat, Umar Ahmad,” katanya. (Red)
Kejutan HPN 2023 di Medan, Pengamat Sejarawan Bonkar Pelopor Pers Perjuangan
Medan (RN) – Ada Kejutan Dalam Seminar dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) yang di gelar di Medan Sumetra Utara dari pemaparan sebagai narasumber, Dr Phil Ichwan Azhari pengamat media dan sejarawan pengajar dan ahli filogi infonesia yang memaparkan para pelopor pers perjuangan yang ada di indonesia.
Menurutnya Dr. Phil Ichwan Azhari pengamat media dan sejarawan pengajar dan ahli filogi infonesia. Tuan MH Manulang, adalah pelopor Pers Perjuangan, pemilik koran pertama di indonesia, dan dan di cetak di Indonesia yaitu koran Binsar Sipondang batak, dan diedarkan di Tampanuli.
“Tuan MH Manulang lahir pada tahun 1887 di Tampanuli Utara Sumatera Utara dengan nama Mangradja Hezeklel Manullang, pada tahun 1905 Beliau menerbitkan koran Binsar Sinondang Batak di Padang dan diedarkan di Tampanuli, dengan “Moto” Majalah hiburan dengan orang Batak, pada tahun 1919 – 1929 menerbitkan kembali Soara Batak,” kata Ichwan Azhari dalam seminar Seruan Pers di Hotel Grand Mercure, Kota Medan, Selasa (7-2-2023).
Dia juga memaparkan, selain Tuan Manullang, ada juga dua nama besar yang menjadi pelopor pers nasional, antara lain: Dja Endar Moeda yang lahir pada tahun 1861 dan Tirto Adhi Sooerjo lahir 1907.
Sementara itu Ketua Dewan Pers Ninik Rahyu mengatakan, pers adalah salah satu pilar ke 4 yang berperan besar dalam mendorong partisipasi masyarakat dan menjaga kondisi bangsa dalam keadaan kondusif.
“Kerena Tugas jurnalis bukan hanya menulis, peran pers dalam pemerintahan sangat besar peres beperan dalam melawan kekacauan informasi,hoax ujar kebencian yang mengacam kehidupan demokrasi,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, banyak keluhan kawan – kawan media sulit nya untuk mendaptkan informasi publik. Namaun Ketik kita belum bisa konfirmasi narasumber, itu boleh di tulis dan disebarkan, tapi harus di tulis belum bisa di konfirmasi,” ujarnya.
Dirinya juga mengatakan, jurnalis sebagai kontrol sosial, mempunyai peran penting dalam demokrasi, tapi jurnalis harus bisa meletakan pada porsi yang propisional.
“Banyak keluhan dari kawan – kawan Wartawan, seperti kekerasan yang di alami media, terus terang belum ada sekema pelindungan yang utuh seperti webnya yang di serang, siapa yang bertangung jawab,? Yang belum ditetapkan oleh pemerintah, kalu penyelesaian hukum secara fisik ada,” pungkasny. (Red)
Hook Up on Tinder
- Meetup.com is another popular platform, however it’s not built around dating.
- Research from Berkeley University in California suggests there is a dropoff in interest after online daters meet face-to-face.
- This may have something to do with most of its features being free.
- Three-in-ten U.S. adults say they have ever used a dating site or app, according to a Pew Research Center survey conducted July 5-17, 2022.
- A line of research initiated in recent years links dark personality traits to the reasons for using Tinder.
How to use dating apps like a pro
The date can be online or physical, with the latter costing the paying party any expenses incurred during the meet-up. If the date is to take place in a venue that requires an entry fee, your partner should pay for that too. As to how much you get to take home, the going rate averages $80 to $100 per date. Also, as an attractive member, you have an option to negotiate the bid if you feel the amount is too. After submitting your request, you’ll receive a confirmation email giving you access to the site. This is an adult dating website where bids are placed to win a date.The Dangers of Dating App Meet-Ups
Reverting to characteristics of traditional sexual scripts, women may find themselves further entrenched in unwanted gender roles. Feminist Gail Dines has opined that pornography is “a cultural force that is shaping the sexual attitudes of an entire generation” and a “major form of sex ed today for boys.” Most importantly, you get to set the budget for the entire date. What this means is that you get to keep the full-price amount. Finally, you don’t have to disclose your personal identity if you are not comfortable with a bidder. For the chance to get paid to date a millionaire or just the average Joe, you pay a subscription fee of $59.99 for 30 days. Basically, you’re given a random profile with the option to either “like” them or “X” cross them out – sort of like Tinder’s swipe feature. Most of the members on SearchingforSingles are from the US, but you can still find users worldwide! Plus, there are also more women than men on this hookup site, if that’s what you’re after. Tinder has been called the harbinger of the hookup-fueled “dating apocalypse.” But the truth of the matter is, hooking up isn’t anything new . And as for Tinder, sure, it can be used for swiftly finding a one-night stand, but there are plenty of other apps that are better suited for that task. You don’t have to travel thousands of miles away to meet your date when you find the perfect match – as Tinder lets you only access singles near your location.HPN 2023 di Medan, PWI Pesawaran Kawal Bupati Penerima Anugerah Kebudayaan
Terlibat Tawuran Belasan Siswa SMP Di Pesawaran Diamankan Polisi
GEMAPATAS Pecahkan Rekor Muri, BPN Pesawaran Pasang 1.530 Batas Tanah di Dua Desa



Sulam Jelujur Asal Pesawaran Sampai ke New York

Jakarta (RN) – Pekan Mode New York atau New York Fashion Week adalah salah satu dari empat besar pekan mode yang diselenggarakan di seluruh dunia bersama Pekan Mode Paris, London, dan Milan.
Pekan Mode New York diselenggarakan pada bulan Februari dan September setiap tahunnya di New York City, Amerika Serikat. Pekan mode yang awalnya disebut “Press Week” ini mulai diselenggarakan tahun 1943 saat Perang Dunia II sedang meletus.
Kini Pekan Mode New York telah menjadi kiblat pada mode dunia di samping Paris, London, dan Milan. Ke Pekan Mode New York, itulah Bupati Pesawaran H. Dendi Ramadhona K., S.T.,M.Tr.I.P., membawa sulam jelujur dari Kabupaten Pesawaran terbang tinggi pada 11 September 2022.
“Pemerintah Daerah Pesawaran mengenalkan produk kerajinan sulam jelujur pada event Indonesia Fashion Week di New York dengan tema Sang Dewi,” kata Bupati Dendi dengan bangga di depan Tim Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2023 di Kantor PWI Pusat, Kebon Sirih, Jakarta Pusat ,Sabtu (4/2/2023).
“Sang Dewi adalah sebuah dedikasi terhadap pengrajin sulam jelujur Pesawaran di Desa Sungai Langka yang mayoritas pengrajinnya adalah perempuan yang tangguh dalam menghadapi sebuah kondisi dan keadaan yang mereka alami. Para wanita itu menjadi simbol sang dewi,” jelas Bupati.

Saat tampil di Pekan Mode New York itu desainer Ariesmansyah membawa 12 desain sulam jelujur dengan tema Sang Dewi. Saat tampil di depan Tim Juri, Bupati Dendi mengajak Ariesmansyah ikut serta bersama stafnya. Dendi juga memamerkan sejumlah produk sulam jelujur di depan juri.
Sulam jelujur terus terbang tinggi. Usai Pekan Mode New York, sulam jelujur dipamerkan di Ocean City Gift Expo di Washington DC, lalu ikut tampil di panggung Dubai Fashion Week.
Sulam jelujur mulai tampil di panggung di dunia internasional sejak tahun 2018.
“Tahun 2018 ada kerja sama dengan Negara Belanda berkaitan dengan sulam jelujur. Motif sulam jelujur dipajang di Bandara Internasional Netherlands, Museum Tektile Netherlands, dan Stasiun Metrohal Netherlands,” kata Bupati Dendi.
Lalu, tahun 2019 sulam jelujur ditampilkan di Kedubes RI di Afrika Selatan untuk pameran dan fashion show. Tahun 2021 ikut serta dalam beberapa pameran yakni Lampung Craft, Innacraft, dan Bali TTI Expo.
Sulam jelujur sebetulnya bukan khas Pesawaran dan Lampung pada umumnya. Kain khas Lampung adalah Tapis Lampung. Dedi mengungkapkan penemuan sulam jelujur terjadi secara kebetulan tahun 2017.
“Saat bertamu di rumah warga, ada telapak meja dan hiasan dinding yang menarik. Ternyata itu sulam jelujur,” ungkap Bupati Dendi. Sulam jelujur dibawa oleh transmigran dari Jawa ke Pesawaran tahun 1905.
Keterampilan membuat sulam jelujur dipertahankan terus oleh keturunan transmigran dari Jawa itu terutama di Desa Sungailangka, Kecamatan Gedongtataan. Kerajinan itu hanya digunakan sebagai pajangan atau hiasan rumah.
Setelah digali, ternyata ada narasi yang besar di balik sulam jelujur itu. Motif-motifnya mengandung pesan filosofi atau kearifan yang luar biasa. Juga ada motif yang mengisahkan perjalanan transmigran dari Jawa ke Pesawaran, yaitu motif kapal dan jung, yaitu alat transportasi laut yang diperkirakan membawa transmigran dari Jawa ke Lampung, khususnya Pesawaran pada masa lalu.
Tiap motif memiliki makna atau filosofi. Misalnya, motif Bintang Pak mempunyai makna kita harus menjadi terang bagi orang yang ada di sekeliling kita. Bila ingin dihormati dan dimuliakan orang, maka hormatilah dan muliakan orang lain lebih dahulu.
Dengan visi jauh ke depan Bupati Dendi memutuskan untuk mengembangkan sulam jelujur menjadi salah satu kekhasan Pesawaran. Ia mendorong melakukan pembinaan dan pengembangan hingga diversifikasi produk dari kerajinan sulam jelujur itu melalui Dekranasda Kabupaten Pesawaran.
Upaya mengembangkan sulam jelujur mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Pesawaran, Pemerintah Provinsi Lampung, dan Yayasan Cinta Tenun Indonesia (CTI) dengan memberikan pembinaan-pembinaan yang intensif.
Pemerintah Kabupaten Pesawaran menyediakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Rumah Galeri Sulam Jelujur yang dapat digunakan oleh para pengrajin di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, yang jadi sentra sulam jelujur.
Tidak hanya memproduksi sulam jelujur, Pemerintah Kabupaten juga membuka pasarnya. Misalnya ikut pameran di tingkat nasional dan internasional.
Lalu bagaimana sulam jelujur di Pesawaran sendiri? “Saat ini saya mewajibkan hotel-hotel di Pesawaran untuk menggunakan sulam jelujur untuk home decoration, table runner, bed runner, true sofa, pouch bag, kotak tisu, dll,” kata Bupati.
Dan, puncaknya wastra sulam jelujur hadir di pekan mode bergengsi dunia, yakni Pekan Mode New York, pekan mode pertama yang diselenggarakan di dunia dan menjadi salah satu pekan mode dunia yang jadi acuan mode di samping Paris, London, dan Milan. (Red)
