Minggu, September 20, 2026
BerandaLAMPUNGKetika Pemburu Berita Menjadi Peserta Ujian

Ketika Pemburu Berita Menjadi Peserta Ujian

Lampung – Pagi itu suasana Aula lantai dua, Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung yang biasanya ramai terasa berbeda. Puluhan wartawan duduk rapi di depan laptop masing-masing.

Tidak ada suara obrolan ringan, tidak ada canda yang biasa terdengar saat para pemburu berita berkumpul. Yang terdengar hanya ketukan jari di atas papan ketik dan sesekali tarikan napas panjang. Hari itu adalah hari yang ditunggu sekaligus ditakuti sebagian wartawan: Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Bagi masyarakat umum, wartawan mungkin terlihat terbiasa menghadapi tekanan. Mereka mewawancarai pejabat, meliput bencana, mengungkap kasus, bahkan bekerja di tengah situasi yang tidak menentu. Namun ketika duduk sebagai peserta UKW, para wartawan itu berubah menjadi “murid” yang harus membuktikan kemampuan profesionalnya.

Ketegangan sudah terasa sejak registrasi dibuka. Beberapa peserta tampak berkali-kali membuka catatan di telepon genggam. Ada yang membaca kembali kode etik jurnalistik, ada pula yang mencoba mengingat berbagai aturan dalam dunia pers.

BACA JUGA:  Desa Hanura Genap 60 Tahun, Siap Melangkah Menuju Desa Modern

“Wartawan yang setiap hari mengejar narasumber, ternyata bisa juga grogi menghadapi penguji,” celetuk salah seorang peserta sambil tersenyum tipis.

Saat ujian dimulai, ruangan seketika hening. Wajah-wajah serius menatap layar komputer. Sesekali terdengar suara kursi bergeser atau bunyi keyboard laptop yang ditekan lebih cepat. Beberapa peserta tampak mengernyitkan dahi saat membaca soal, sementara yang lain sibuk menyusun kalimat dan strategi menjawab.

Keringat dingin mulai muncul meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Bukan karena suhu yang panas, melainkan karena tekanan untuk memberikan jawaban terbaik. Setiap peserta menyadari bahwa UKW bukan sekadar formalitas.

Ujian ini menjadi ukuran profesionalisme dan kemampuan seorang wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik sesuai standar yang berlaku.

Di sela waktu ujian, ada peserta yang terlihat memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikiran sebelum kembali menatap layar. Ada pula yang berulang kali mengecek jawaban untuk memastikan tidak ada kesalahan. Semakin mendekati batas waktu, suasana semakin menegangkan.

BACA JUGA:  Desa Hanura Genap 60 Tahun, Siap Melangkah Menuju Desa Modern

Ketukan keyboard terdengar lebih cepat. Wajah peserta terlihat semakin fokus. Jam di dinding seolah bergerak lebih cepat dari biasanya.

Ketika penguji akhirnya mengumumkan waktu ujian selesai, napas lega terdengar hampir bersamaan dari berbagai sudut ruangan. Sebagian peserta langsung merebahkan badan ke sandaran kursi, sementara yang lain saling bertukar pandang dan tersenyum.

“Rasanya seperti kembali ujian saat kuliah dulu,” ujar seorang peserta sambil tertawa kecil, kamis (20/10/2025).

Namun di balik ketegangan itu, UKW menyimpan makna yang lebih besar. Ujian ini bukan sekadar mencari nilai atau sertifikat, melainkan mengingatkan bahwa profesi wartawan menuntut kompetensi, integritas, dan tanggung jawab yang terus diasah.

Di ruang yang sunyi itu, para wartawan tidak sedang memburu berita. Mereka sedang menguji diri sendiri. Dan bagi banyak peserta, itulah tantangan yang justru paling menegangkan.

Penulis (Rizal)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments