Pesawaran – Pagi itu langit di sebagian wilayah Pesawaran terlihat berbeda. Warna biru yang biasanya membentang cerah perlahan berubah kusam. Di atas genting rumah, dedaunan, dan kendaraan yang terparkir, tampak lapisan tipis berwarna abu-abu.
Bagi sebagian warga, fenomena itu sempat menimbulkan tanda tanya. Tidak ada kebakaran, tidak ada aktivitas pembakaran lahan. Namun debu halus terus menempel di berbagai sudut permukiman.
Jawabannya datang dari arah Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Letusan anak Krakatau yang terjadi pada Jumat malam 4 September 2026 di tengah laut itu memuntahkan material vulkanik dan kolom abu ke udara. Angin kemudian membawa abu tersebut menyebar ke berbagai arah.
Tak hanya wilayah pesisir Pulau Jawa yang merasakan dampaknya, sebaran abu vulkanik juga mencapai sejumlah daerah di Provinsi Lampung, termasuk Kabupaten Pesawaran yang berada di sisi timur Selat Sunda.
Di Desa Hanura, Ketapang, hingga sejumlah kawasan pesisir lainnya, warga mulai membersihkan teras dan halaman rumah. Abu vulkanik yang turun memang tidak setebal di wilayah yang lebih dekat dengan pusat erupsi, tetapi cukup terlihat menempel pada kendaraan dan atap bangunan.
“Awalnya kami kira debu biasa. Setelah diperhatikan, ternyata hampir semua permukaan rumah terkena abu halus,” tutur seorang warga Pahawang sambil membersihkan teras rumah nya, Minggu (6/09/2026).
Bagi para nelayan, letusan Anak Krakatau selalu menjadi perhatian tersendiri. Selain memantau kondisi cuaca, mereka juga memperhatikan informasi terkait aktivitas vulkanik sebelum melaut. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan mendadak terasa lebih dekat dengan ancaman alam yang sewaktu-waktu dapat berubah.
Dari kejauhan, Gunung Anak Krakatau mungkin hanya tampak seperti siluet hitam di tengah Selat Sunda. Namun ketika erupsi terjadi, pengaruhnya dapat menjangkau wilayah yang cukup luas.
Perjalanan abu vulkanik dari kawah gunung hingga ke permukiman warga merupakan bukti bagaimana alam bekerja tanpa mengenal batas administrasi. Abu yang dimuntahkan dari perut bumi itu melintasi lautan, terbawa angin, lalu jatuh di halaman rumah-rumah warga yang berjarak puluhan kilometer dari pusat letusan.
Fenomena ini seakan mengingatkan kembali hubungan erat antara Lampung dan Krakatau. Sejarah panjang keduanya telah terjalin sejak letusan besar tahun 1883 yang mengguncang dunia.
Hingga kini, setiap aktivitas Anak Krakatau selalu menjadi perhatian masyarakat di kedua sisi Selat Sunda. Meski abu yang sampai ke Pesawaran umumnya berupa partikel halus, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.
Masker kembali digunakan saat beraktivitas di luar rumah. Sebagian warga memilih menutup penampungan air dan membersihkan lingkungan secara berkala agar abu tidak menumpuk.
Menjelang senja, lapisan abu di beberapa tempat mulai dibersihkan. Anak-anak kembali bermain di halaman, sementara para nelayan bersiap menatap laut esok hari. Namun jejak abu yang menempel di atap rumah dan dedaunan menjadi pengingat bahwa jauh di tengah Selat Sunda, Anak Krakatau masih terus hidup dan menunjukkan denyut vulkaniknya.
Dan ketika gunung itu berbicara melalui letusan, suaranya tidak hanya terdengar di Pulau Jawa. Ia juga menyapa Lampung, termasuk Pesawaran, melalui butiran-butiran abu yang jatuh perlahan dari langit.
Pemerintah Kabupaten Pesawaran Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) dengan sigap mengeluarkan himbau Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau dan adanya potensi sebaran abu vulkanik yang dapat mencapai wilayah Kabupaten Pesawaran, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, waspada, dan tidak panik.
Penulis (Rizal)
