ARTIKUJT E FUNDIT

Ketika Abu vulkanik Anak Krakatau Menyapa Pesawaran

Pesawaran – Pagi itu langit di sebagian wilayah Pesawaran terlihat berbeda. Warna biru yang biasanya membentang cerah perlahan berubah kusam. Di atas genting rumah, dedaunan, dan kendaraan yang terparkir, tampak lapisan tipis berwarna abu-abu. Bagi sebagian warga, fenomena itu sempat menimbulkan tanda tanya. Tidak ada kebakaran, tidak ada aktivitas pembakaran lahan. Namun debu halus terus menempel di berbagai sudut permukiman. Jawabannya datang dari arah Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Letusan anak Krakatau yang terjadi pada Jumat malam 4 September 2026 di tengah laut itu memuntahkan material vulkanik dan kolom abu ke udara. Angin kemudian membawa abu tersebut menyebar ke berbagai arah. Tak hanya wilayah pesisir Pulau Jawa yang merasakan dampaknya, sebaran abu vulkanik juga mencapai sejumlah daerah di Provinsi Lampung, termasuk Kabupaten Pesawaran yang berada di sisi timur Selat Sunda. Di Desa Hanura, Ketapang, hingga sejumlah kawasan pesisir lainnya, warga mulai membersihkan teras dan halaman rumah. Abu vulkanik yang turun memang tidak setebal di wilayah yang lebih dekat dengan pusat erupsi, tetapi cukup terlihat menempel pada kendaraan dan atap bangunan. “Awalnya kami kira debu biasa. Setelah diperhatikan, ternyata hampir semua permukaan rumah terkena abu halus,” tutur seorang warga Pahawang sambil membersihkan teras rumah nya, Minggu (6/09/2026). Bagi para nelayan, letusan Anak Krakatau selalu menjadi perhatian tersendiri. Selain memantau kondisi cuaca, mereka juga memperhatikan informasi terkait aktivitas vulkanik sebelum melaut. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan mendadak terasa lebih dekat dengan ancaman alam yang sewaktu-waktu dapat berubah. Dari kejauhan, Gunung Anak Krakatau mungkin hanya tampak seperti siluet hitam di tengah Selat Sunda. Namun ketika erupsi terjadi, pengaruhnya dapat menjangkau wilayah yang cukup luas. Perjalanan abu vulkanik dari kawah gunung hingga ke permukiman warga merupakan bukti bagaimana alam bekerja tanpa mengenal batas administrasi. Abu yang dimuntahkan dari perut bumi itu melintasi lautan, terbawa angin, lalu jatuh di halaman rumah-rumah warga yang berjarak puluhan kilometer dari pusat letusan. Fenomena ini seakan mengingatkan kembali hubungan erat antara Lampung dan Krakatau. Sejarah panjang keduanya telah terjalin sejak letusan besar tahun 1883 yang mengguncang dunia. Hingga kini, setiap aktivitas Anak Krakatau selalu menjadi perhatian masyarakat di kedua sisi Selat Sunda. Meski abu yang sampai ke Pesawaran umumnya berupa partikel halus, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. Masker kembali digunakan saat beraktivitas di luar rumah. Sebagian warga memilih menutup penampungan air dan membersihkan lingkungan secara berkala agar abu tidak menumpuk. Menjelang senja, lapisan abu di beberapa tempat mulai dibersihkan. Anak-anak kembali bermain di halaman, sementara para nelayan bersiap menatap laut esok hari. Namun jejak abu yang menempel di atap rumah dan dedaunan menjadi pengingat bahwa jauh di tengah Selat Sunda, Anak Krakatau masih terus hidup dan menunjukkan denyut vulkaniknya. Dan ketika gunung itu berbicara melalui letusan, suaranya tidak hanya terdengar di Pulau Jawa. Ia juga menyapa Lampung, termasuk Pesawaran, melalui butiran-butiran abu yang jatuh perlahan dari langit. Pemerintah Kabupaten Pesawaran Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) dengan sigap mengeluarkan himbau Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau dan adanya potensi sebaran abu vulkanik yang dapat mencapai wilayah Kabupaten Pesawaran, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, waspada, dan tidak panik. Penulis (Rizal)

Pahawang: Surga Biru yang Menenangkan Jiwa

Pesawaran – Pagi itu dermaga Ketapang belum terlalu ramai. Beberapa perahu kayu berjajar di bibir pantai, menunggu penumpang yang ingin menyeberang ke pulau-pulau kecil di Teluk Lampung. Angin laut berembus pelan, membawa aroma asin yang khas. Langit tampak cerah, seolah memberi isyarat bahwa perjalanan hari itu akan menjadi sesuatu yang istimewa. “Berangkat jam sembilan ya, sekitar tiga puluh menit sampai,” ujar seorang pengemudi perahu sambil menyerahkan pelampung kepada para penumpang, Kamis (27/08/2026). Mesin perahu mulai meraung. Perlahan kami meninggalkan daratan. Ombak tenang membuat perjalanan terasa nyaman. Semakin jauh dari Ketapang, laut berubah menjadi hamparan biru yang memanjakan mata. Beberapa burung laut tampak melintas rendah di atas permukaan air. Tiga puluh menit kemudian, sinyal telepon perlahan menghilang. Namun, pada saat yang sama, sebuah pemandangan luar biasa muncul di depan mata. Airnya bening seperti kaca. Dari atas perahu, ikan-ikan kecil terlihat berenang bebas di antara terumbu karang. Pasir putih membentang di tepian pantai, berpadu dengan warna laut yang gradasinya berubah dari hijau toska menjadi biru tua. Keindahan itu membuat siapa pun paham mengapa banyak orang menyebut Pahawang sebagai “Raja Ampat-nya Lampung”. Bertemu Nemo di Rumahnya. Bagi sebagian besar wisatawan, daya tarik utama Pahawang adalah snorkeling. Begitu tubuh menyentuh air, dunia yang berbeda langsung menyambut. Di bawah permukaan laut terbentang taman karang yang penuh warna. Ungu, kuning, hijau, dan oranye berpadu membentuk lanskap bawah laut yang menakjubkan. Ratusan ikan berenang tanpa rasa takut. Ada yang bergerak bergerombol, ada pula yang berlalu sendiri-sendiri di sela karang. Di antara keindahan itu, sesekali muncul ikan badut berwarna oranye-putih yang lebih dikenal sebagai Nemo. Ikan kecil itu bersembunyi di antara tentakel anemon yang bergoyang mengikuti arus. “Jangan disentuh ya, itu rumahnya,” kata seorang pemandu sambil menunjuk ke arah anemon. Waktu terasa berjalan sangat cepat di bawah laut Pahawang. Satu jam snorkeling terasa seperti hanya beberapa menit. Keindahan bawah lautnya membuat siapa saja enggan kembali ke permukaan. Selain mengunjungi Pahawang Kecil, wisatawan biasanya diajak singgah ke Pulau Kelagian Kecil dan Gosong Pasir. Hamparan pasir putih yang muncul di tengah laut saat air surut itu menjadi lokasi favorit untuk berfoto. Dari kejauhan, pemandangan Gosong Pasir terlihat seperti pulau kecil yang terapung di atas laut biru. Banyak wisatawan mengaku hasil foto di tempat itu tak kalah indah dibanding destinasi wisata tropis kelas dunia. Pulau yang Mengubah Kehidupan Dahulu, Pahawang dikenal sebagai kampung nelayan biasa. Kehidupan masyarakat sepenuhnya bergantung pada hasil laut. Kini, wajah pulau itu berubah. Rumah-rumah warga banyak yang disulap menjadi homestay. Perahu-perahu nelayan beralih fungsi menjadi kapal wisata. Aktivitas ekonomi tumbuh seiring meningkatnya jumlah pengunjung yang datang setiap akhir pekan maupun musim liburan. Para ibu rumah tangga menyiapkan makanan untuk tamu yang menginap. Para ayah menjadi nahkoda kapal wisata. Sementara anak-anak muda banyak yang bekerja sebagai pemandu snorkeling. “Alhamdulillah, sejak wisata ramai, penghasilan keluarga bertambah. Anak-anak juga bisa sekolah lebih tinggi,” tutur seorang pemilik homestay. Yang menarik, biaya berwisata ke Pahawang masih tergolong ramah di kantong. Sewa kapal secara patungan bisa dibagi beberapa orang sehingga jauh lebih hemat. Homestay sederhana yang menghadap laut pun tersedia dengan harga yang masih terjangkau. Keindahan alam yang ditawarkan membuat banyak wisatawan merasa mendapatkan pengalaman yang jauh lebih berharga daripada biaya yang mereka keluarkan. Menjaga Surga Tetap Biru. Namun, di balik pesonanya, Pahawang juga menghadapi tantangan. Sampah masih menjadi persoalan yang sesekali muncul. Tidak semua wisatawan memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Masih ada yang membuang puntung rokok atau sampah plastik sembarangan. Padahal, laut yang jernih dan terumbu karang yang sehat merupakan aset utama pulau ini. Karang yang terinjak bisa membutuhkan puluhan tahun untuk pulih. Plastik yang hanyut ke laut dapat dimakan ikan atau penyu. Jika kerusakan terjadi, bukan hanya alam yang dirugikan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor wisata. Karena itu, warga setempat rutin melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan. “Kami bergotong royong membersihkan pantai dan laut supaya Pahawang tetap indah,” ujar Salah satu warga setempat. Kesadaran menjaga alam menjadi investasi penting agar generasi berikutnya masih bisa menikmati keindahan yang sama. Saat Sinyal Menghilang, Ketenangan Ditemukan. Menjelang sore, suasana Pahawang berubah semakin syahdu. Matahari perlahan turun di ufuk barat. Langit yang semula biru berubah menjadi jingga keemasan. Cahaya senja memantul di permukaan laut yang tenang, menciptakan pemandangan yang sulit dilupakan. Duduk di dermaga sambil mencelupkan kaki ke air laut menjadi kemewahan sederhana yang jarang ditemukan di kota. Ketika malam tiba, langit dipenuhi bintang. Lampu kota yang jauh membuat gugusan bintang terlihat lebih jelas. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada hiruk-pikuk jalanan. Bahkan sinyal telepon pun nyaris tidak ada. Awalnya mungkin terasa aneh. Namun lama-kelamaan justru itulah yang membuat Pahawang istimewa. Orang-orang mulai saling berbincang. Ada yang bermain gitar. Ada yang membakar ikan hasil tangkapan nelayan. Ada pula yang hanya duduk menikmati suara ombak. “Ini yang dicari orang kota. Tenang, tanpa notifikasi,” kata seorang wisatawan sambil tersenyum. Di tempat seperti inilah seseorang menyadari bahwa ketenangan ternyata tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Surga yang Harus Dijaga Pahawang bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah rumah bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut. Ia juga menjadi pengingat bahwa alam yang indah membutuhkan kepedulian untuk tetap lestari. Karena itu, setiap orang yang datang memiliki tanggung jawab yang sama: membawa pulang sampahnya, tidak menginjak karang, dan tidak mengganggu kehidupan laut. Dengan cara sederhana itu, keindahan Pahawang akan tetap terjaga. Agar sepuluh tahun, dua puluh tahun, bahkan puluhan tahun mendatang, anak cucu kita masih bisa menyaksikan ikan Nemo berenang bebas di antara karang warna-warni. Karena surga itu ternyata tidak jauh. Ia hanya berjarak tiga puluh menit dari Ketapang. Namanya, Pahawang. Penulis (Rizal)

Peringati Hari Lahir Kejaksaan ke-81, Kajati Lampung Pimpin Ziarah Nasional di Taman Makam Pahlawan

Bandar Lampung (RN) – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Kejaksaan ke-81, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung menggelar upacara penghormatan dan ziarah makam pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bandar Lampung, Selasa (1/9/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung, Dr. Taufan Zakaria, S.H., M.H., dan diikuti seluruh Kepala Kejaksaan Negeri se-Provinsi Lampung serta jajaran pegawai Kejati dan Kejari. Peringatan Hari Lahir Kejaksaan ke-81 tahun ini mengusung tema “Menguatkan Kepercayaan Publik melalui Penegakan Hukum Berintegritas Menuju Indonesia yang Adil dan Makmur. “Tema tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas penegakan hukum,” kata Dr. Taufan Zakaria Ia juga mengatakan, seluruh peserta memberikan penghormatan kepada arwah para pahlawan sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan serta menjaga keutuhan bangsa dan negara. Usai upacara penghormatan, Kajati Lampung melakukan peletakan karangan bunga di tugu TMP sebagai simbol penghormatan kepada para pahlawan. Prosesi tersebut kemudian diikuti oleh jajaran Kejaksaan Negeri Bandar Lampung dan Kejaksaan Negeri Pesawaran. Kegiatan dilanjutkan dengan tabur bunga di makam para pahlawan. Dalam suasana penuh penghormatan, seluruh peserta ziarah mengenang perjuangan dan pengorbanan para pahlawan yang telah mengabdikan jiwa dan raga demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kajati Lampung menegaskan bahwa ziarah makam pahlawan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum refleksi bagi seluruh insan Adhyaksa untuk meneladani nilai-nilai perjuangan, keberanian, pengabdian, dan integritas yang diwariskan para pahlawan. “Melalui peringatan Hari Lahir Kejaksaan ke-81 ini, jajaran Kejaksaan diharapkan semakin memperkuat komitmen dalam menghadirkan penegakan hukum yang profesional, berintegritas, dan berkeadilan guna meningkatkan kepercayaan publik serta mendukung terwujudnya Indonesia yang adil dan makmur,” pungkasnya. (Red)

Kejari Pesawaran Segarkan Organisasi, Hendra Meylana Resmi Emban Jabatan Kasi Pidum

Pesawaran (RN)- Kejaksaan Negeri (Kejari) Pesawaran, Lampung, menggelar pelantikan dan pengambilan sumpah/janji jabatan Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) di Aula Kejari Pesawaran, Kamis (27/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, Hendra Meylana resmi dilantik sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Pesawaran, menggantikan Hendra Dwi Gunanda yang sebelumnya menduduki jabatan tersebut. Kepala Kejaksaan Negeri Pesawaran, Umi Kalsum, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Hendra Dwi Gunanda atas dedikasi dan pengabdiannya selama menjalankan tugas sebagai Kasi Pidum Kejari Pesawaran. Umi Kalsum juga menyampaikan ucapan selamat kepada Hendra Meylana atas amanah dan jabatan baru yang diembannya. Ia meminta pejabat yang baru dilantik segera beradaptasi dengan lingkungan kerja, baik di internal maupun eksternal institusi. “Segera melakukan sinergitas lintas sektor dalam rangka berjalannya tugas pokok dan fungsi kelembagaan secara baik dan benar serta dapat menjunjung tinggi integritas,” ujar Umi Kalsum. Menurutnya, pergantian pejabat merupakan bagian dari dinamika organisasi yang bertujuan memperkuat kinerja institusi, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan dan penegakan hukum kepada masyarakat. “Jabatan yang diemban merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, dedikasi, dan komitmen tinggi terhadap nilai-nilai profesionalisme,” katanya. Umi Kalsum menambahkan, tantangan penegakan hukum saat ini semakin kompleks. Kondisi tersebut menuntut setiap insan Adhyaksa untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan hukum serta dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat. “Integritas harus menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan tugas. Selain itu, loyalitas kepada institusi dan pimpinan, serta pengamalan nilai-nilai Tri Krama Adhyaksa harus terus dijaga dan diwujudkan dalam setiap pelaksanaan tugas,” jelasnya. “Semoga pelantikan ini terus memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi Kejaksaan Negeri Pesawaran, khususnya dalam penanganan perkara tindak pidana umum serta memberikan pelayanan dan kepastian hukum yang profesional kepada masyarakat,” pungkasnya. (Red)

Perkuat Infrastruktur hingga SDM, Nanda-Anton Bangun Fondasi Pesawaran yang Berkelanjutan

Pesawaran (RN) – Sejak dilantik pada 27 Agustus 2025, pasangan Nanda-Anton bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Pesawaran terus mendorong pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.  Berbagai program tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan capaian pembangunan, tetapi juga membangun fondasi yang kuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Pesawaran. Mengusung visi menuju Pesawaran yang Cerdas, Aman, Kreatif, Efektif dan Produktif (CAKEP), Bumi Andan Jejama terus berbenah dan bertransformasi menjadi daerah yang fokus pada berbagai perbaikan di berbagai sektor. Sejumlah indikator pembangunan menunjukkan arah positif. Perekonomian Kabupaten Pesawaran tumbuh sebesar 5,38 persen, seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dan berbagai sektor produktif daerah. “Pada saat yang sama, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pesawaran meningkat menjadi 70,90. Kondisi tersebut berjalan beriringan dengan upaya pemerintah daerah menekan angka kemiskinan yang turun menjadi 10,93 persen serta mengurangi tingkat pengangguran,” kata Nanda, Kamis (27/08/2026). Ia juga mengatakan, Stabilitas ekonomi masyarakat juga terus dijaga. Inflasi Kabupaten Pesawaran berada pada angka 0,44 persen, yang mencerminkan terjaganya stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Capaian tersebut menjadi bagian dari proses pembangunan yang terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Pesawaran melalui kebijakan yang menyentuh berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat hingga penguatan potensi lokal. “Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan 10 Program Prioritas Terintegrasi yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih konkret. Berbagai langkah kolaboratif pun terus digalakkan baik dari lintas lembaga hingga kementerian pusat sebagai upaya menjaring berbagai aspirasi dan program yang bisa diterapkan di daerah,” ujarnya. Di bidang infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Pesawaran terus melakukan perbaikan jalan melalui Satgas Tambal Sulam sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan ruas jalan kabupaten. Langkah tersebut turut mendorong peningkatan kemantapan jalan yang kini mencapai 55,27 persen. Di sektor pendidikan, rencana pembangunan Sekolah Rakyat Menengah Pertama di Gedong Tataan serta Balai Latihan Kerja (BLK) Pariwisata di Kecamatan Kedondong menjadi bagian dari investasi pemerintah daerah terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda agar memiliki kompetensi dan kesiapan memasuki dunia kerja. “Pesawaran juga terus memperkuat pengembangan potensi lokal sebagai bagian dari strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada keunggulan daerah,” kata dia. Di sektor pariwisata, Pemerintah Kabupaten Pesawaran mengembangkan Kawasan Wisata Terpadu (KWT) yang menghubungkan potensi pesisir hingga kepulauan. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memadukan kekayaan alam, budaya, UMKM, serta kreativitas masyarakat sehingga pariwisata dapat menjadi penggerak ekonomi lokal. Potensi daerah juga diperkuat melalui upaya penyelesaian persoalan lingkungan. Rencana pengembangan fasilitas pengolahan sampah berkelanjutan di TPA Taman Sari menjadi salah satu langkah strategis untuk menghadirkan pengelolaan sampah yang lebih modern sekaligus membuka peluang kerja sama dengan mitra dan investor. Di tengah percepatan pembangunan, Pemerintah Kabupaten Pesawaran juga menempatkan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab sebagai bagian penting dari proses pembangunan. Komitmen tersebut salah satunya tercermin melalui keberhasilan Kabupaten Pesawaran mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI) untuk ke-10 kalinya secara berturut-turut. Capaian tersebut menjadi penguat bahwa pembangunan daerah harus berjalan seiring dengan pengelolaan pemerintahan yang baik, tertib, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Memasuki satu tahun kepemimpinannya, Bupati Nanda menyebut bahwa berbagai capaian yang telah diraih, merupakan modal untuk melanjutkan pekerjaan pembangunan pada tahun-tahun berikutnya. “Apa yang telah kita capai selama satu tahun ini harus menjadi pijakan untuk bekerja lebih baik. Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan, masih banyak potensi yang harus kita kembangkan, dan masih banyak kebutuhan masyarakat yang harus kita jawab. Karena itu, semangat kolaborasi harus terus kita jaga,” ujar Bupati. Sementara itu, Wakil Bupati Pesawaran Antonius Muhammad Ali menegaskan bahwa pembangunan daerah harus mampu menciptakan keterhubungan antara kebijakan pemerintah dengan potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat. “Kita ingin pembangunan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi mampu membuka kesempatan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, potensi yang ada di desa harus kita dorong menjadi kekuatan ekonomi daerah,” kata Wabup Antonius. “Satu tahun perjalanan Nanda-Anton menjadi bagian awal dari ikhtiar panjang Pemerintah Kabupaten Pesawaran dalam mewujudkan pembangunan yang semakin inklusif dan berkelanjutan. Melalui sinergi semua pihak, Pesawaran terus bergerak membangun fondasi yang lebih kuat untuk menghadirkan kesejahteraan sekaligus meningkatkan daya saing daerah,” pungkasnya. (zal)

Diduga Catut Nama PWI untuk Minta Sumbangan ke Sekolah, Ketua PWI Lampung Minta Masyarakat Waspada

Pesawaran (RN) – Dugaan pencatutan nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kembali mencuat di Kabupaten Pesawaran. Seorang oknum yang mengaku berasal dari PWI Bandar Lampung diduga meminta sumbangan kepada pihak sekolah dengan dalih mendukung kegiatan Maulid Nabi.  Dugaan tersebut diungkapkan salah seorang guru di sebuah madrasah yang berada di Kecamatan Kedondong. Ia mengaku dihubungi melalui aplikasi WhatsApp oleh seseorang yang mengaku berasal dari PWI Bandar Lampung. “Saya dihubungi salah satu oknum yang mengaku dari PWI Bandar Lampung melalui WhatsApp. Dia meminta sumbangan untuk acara Maulid Nabi yang akan digelar oleh PWI Bandar Lampung. Kalau tidak salah, namanya mengaku Gunawan atau Herman,” ungkapnya kepada media ini, Rabu (26/8/2026). Menurutnya, oknum tersebut menyampaikan bahwa sumbangan yang dihimpun akan digunakan untuk memberikan penghargaan atau hadiah kepada anak-anak yang berhasil memenangkan sejumlah perlombaan dalam rangka kegiatan Maulid Nabi. “Katanya untuk memberikan penghargaan atau hadiah kepada anak-anak yang menang lomba, seperti lomba tilawah, azan dan tahfiz Al-Qur’an,” ujarnya. Ia menambahkan, oknum tersebut berdalih mendapat amanah untuk mencari donatur guna mendukung kegiatan tersebut. “Modusnya, dia bilang diberi amanah untuk mencari donatur,” katanya. Terpisah, Ketua PWI Provinsi Lampung, H. Wirahadikusumah, S.P., M.M., saat dikonfirmasi menegaskan bahwa pihak yang mengatasnamakan PWI untuk meminta sumbangan kepada pejabat, kepala sekolah maupun pihak lainnya tidak dibenarkan. Menurut Wira, PWI tidak membenarkan adanya pihak yang mengatasnamakan organisasi untuk melakukan penggalangan dana tanpa mekanisme dan kewenangan yang jelas. “Ini ada oknum yang mengatasnamakan PWI Bandar Lampung. sudah jelas, tidak ada PWI Bandar Lampung yang ada PWI Provinsi Lampung dan PWI Kabupaten/Kota. Jadi, kalau ada yang mengatasnamakan PWI Bandar Lampung dan meminta sumbangan, harus diwaspadai,” tegasnya. Wira mengimbau kepada seluruh satuan kerja, pejabat, kepala sekolah, donatur maupun masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap modus serupa. “Jangan dilayani dan sebaiknya diabaikan. Kalau memang ada permintaan seperti itu, sebaiknya dikonfirmasi terlebih dahulu kepada pengurus PWI setempat untuk memastikan kebenarannya,” imbaunya. Ia juga meminta masyarakat yang merasa dirugikan, mendapat tekanan, atau menghadapi pihak yang mengaku sebagai pengurus PWI dan meminta sumbangan secara tidak semestinya agar segera melaporkan atau berkoordinasi dengan pihak kepolisian maupun PWI Kabupaten/Kota setempat. “Jika oknum tersebut memaksa dan sudah meresahkan, silakan berkoordinasi dengan kepolisian dan PWI Kabupaten/Kota agar dapat ditindaklanjuti sesuai prosedur hukum,” terangnya. Wira berharap masyarakat tidak memberikan uang maupun bantuan sebelum memastikan identitas dan legalitas pihak yang mengajukan permintaan. “Kalau dibiarkan, modus seperti ini bisa semakin marak. Karena itu, perlu diantisipasi dan jika memenuhi unsur pelanggaran hukum, harus ditindak sesuai ketentuan agar tidak terulang kembali,” pungkasnya. (Red)

Konflik Buay Bulan Bersatu dan PTPN 1 Regional 7 Temui Titik Terang

Tulang Bawang Barat (RN) – Konflik antara masyarakat adat Buay Bulan Bersatu (B3) dan PTPN 1 Regional VII Unit Usaha PG Bunga Mayang mulai menemukan titik terang setelah kedua belah pihak duduk bersama dalam rapat mediasi yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Kamis (20/8/2026). Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Wakil Bupati Tubaba tersebut dihadiri perwakilan Buay Bulan Bersatu beserta kuasa hukumnya, pihak perusahaan dan pendamping hukumnya, Wakil Bupati Tubaba, serta unsur Forkopimda. Mediasi dilakukan untuk mencari solusi atas berbagai tuntutan masyarakat terhadap perusahaan. Juru Bicara Buay Bulan Bersatu, Aswar, menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut pihak perusahaan menyatakan kesediaannya untuk menjalankan kewajiban terkait Corporate Social Responsibility (CSR) dan Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar (FPKMS) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Untuk realisasinya pihak perusahaan meminta waktu dan akan diadakan pertemuan ulang. Kami dari Buay Bulan Bersatu memberikan waktu kembali selama tujuh hari,” kata Aswar. Ia menegaskan, apabila kesepakatan tersebut tidak ditindaklanjuti dalam jangka waktu yang telah disepakati, maka masyarakat akan mengambil langkah lanjutan dengan menduduki lahan yang menjadi objek sengketa. “Namun kita juga tidak bisa dipungkiri masyarakat perlu perusahaan, begitu juga sebaliknya. Yang terpenting, hak-hak masyarakat jangan dihilangkan,” ujarnya. Sementara itu, perwakilan PTPN 1 Regional VII, Sasmika, menyampaikan bahwa pihak perusahaan berkomitmen mencari solusi terbaik atas tuntutan yang disampaikan masyarakat adat Buay Bulan Bersatu. Menurutnya, seluruh aspirasi dan tuntutan masyarakat akan disampaikan kepada pimpinan perusahaan untuk dibahas lebih lanjut dalam rapat lanjutan yang telah disepakati bersama. “Kami akan sampaikan kepada pimpinan dan semuanya akan dibahas dalam rapat berikutnya terkait tuntutan masyarakat,” katanya. Wakil Bupati Tulang Bawang Barat, Nadirsyah, menyambut baik hasil pertemuan tersebut. Ia menilai mediasi berjalan lancar dan menghasilkan kesepahaman awal yang akan ditindaklanjuti melalui pertemuan teknis berikutnya. “Kita tetap menjaga keberlangsungan dunia usaha yang ada, sekaligus memfasilitasi hak-hak masyarakat. Apabila hak masyarakat telah disepakati, tentu kita juga tidak bisa melarang investasi dan dunia usaha berkembang di Tubaba karena berdampak pada perekonomian daerah,” tegasnya. Kesepakatan yang dicapai tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga dituangkan secara tertulis dalam Berita Acara Rapat Nomor: 590/403/11.04/TUBABA/2026 tentang Fasilitasi Permasalahan antara Masyarakat Buay Bulan Bersatu dan PTPN 1 Regional VII serta PG Bunga Mayang. Dalam berita acara tersebut, PTPN 1 Regional VII menyatakan bersedia menunaikan kewajiban CSR dan FPKMS sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, bentuk, jenis, dan besaran CSR akan dibahas lebih lanjut pada pertemuan lanjutan antara perusahaan dan masyarakat. “Kedua pihak juga menyepakati bahwa program FPKMS akan diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan, berdasarkan kebutuhan masyarakat, potensi daerah, dan peluang usaha yang saling menguntungkan,” kata dia. Sebagai tindak lanjut, perusahaan diberikan waktu tujuh hari sejak penandatanganan berita acara untuk menyampaikan tanggapan resmi sebelum dilaksanakan pertemuan teknis berikutnya. “Hasil mediasi ini menjadi sinyal positif bagi penyelesaian konflik yang selama ini berlangsung, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih konstruktif antara masyarakat dan perusahaan demi terciptanya solusi yang adil dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Red)

6.559 KPM Terindikasi Judi Online, Bansos Tahap III Terancam Dihentikan

Pesawaran (RN) – Dinas Sosial Kabupaten Pesawaran mulai melakukan verifikasi terhadap ribuan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang terindikasi terlibat aktivitas judi online berdasarkan data yang diterima dari Kementerian Sosial melalui aplikasi Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG). Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pesawaran, Chabrasman, S.T. melalui Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan dan Jaminan Sosial Wiwin Ariansyah mengatakan, berdasarkan data penyaluran Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III Tahun 2026, jumlah KPM PKH di Kabupaten Pesawaran tercatat sebanyak 17.346 kepala keluarga (KK). “Dinas Sosial Pesawaran juga telah menerima data sebanyak 6.559 penerima bantuan sosial yang terindikasi terlibat judi online. Data tersebut mencakup penerima PKH, bantuan sembako, serta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK),” kata Wiwin. Ia juga menjelaskan, data tersebut diperoleh langsung dari Kementerian Sosial yang telah melakukan pencocokan data bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). “Data yang masuk melalui aplikasi SIKS-NG sudah memuat identitas lengkap penerima bantuan yang terindikasi judi online, mulai dari nama, NIK, nomor Kartu Keluarga, alamat hingga rekening bank yang bersangkutan,” ujarnya. Menurutnya, sesuai informasi dari Kementerian Sosial, KPM yang terindikasi terlibat judi online dipastikan tidak akan menerima pencairan bantuan sosial PKH pada Tahap III Tahun 2026. “Data penerima yang terindikasi judi online dapat diakses melalui akun SIKS-NG masing-masing desa. Berdasarkan arahan Kemensos, bantuan tahap ketiga dipastikan tidak keluar lagi bagi penerima yang terindikasi tersebut,” katanya. Dirinya juga menegaskan bahwa proses verifikasi dilakukan berdasarkan data resmi yang diterima melalui aplikasi SIKS-NG. Jika terdapat penerima bantuan yang merasa tidak pernah melakukan aktivitas judi online namun bantuannya ditangguhkan, maka tersedia mekanisme klarifikasi. “Penerima dapat membuat berita acara klarifikasi bersama kepala desa. Dokumen tersebut kemudian diunggah melalui aplikasi SIKS-NG desa dan selanjutnya diverifikasi oleh Dinas Sosial melalui sistem yang sama,” jelasnya. Menurut dia, penyebab masyarakat miskin rentan terjerat judi online, Dinas Sosial menilai faktor karakter sosial dan pengaruh lingkungan menjadi salah satu pemicu utama. Karena itu, edukasi terus dilakukan kepada para penerima bantuan sosial agar tidak tergoda aktivitas perjudian digital yang dapat merugikan diri sendiri maupun keluarga. “Dinas Sosial bersama Sumber Daya Manusia (SDM) Program Keluarga Harapan secara rutin memberikan sosialisasi dan edukasi kepada KPM dalam setiap pertemuan kelompok. Materi yang disampaikan mencakup pemanfaatan bantuan sosial sesuai peruntukannya serta bahaya judi online terhadap kondisi ekonomi keluarga. “Pemberian sanksi berupa penangguhan bantuan sosial dinilai sangat efektif sebagai upaya pencegahan dan pembinaan. Kami terus mengingatkan bahwa keterlibatan dalam judi online dapat mengakibatkan seluruh bantuan sosial yang diterima dihentikan,” tegasnya. (Rizal)  

Sambut HUT RI ke-81, Desa Bernung Gelar Lomba Kebersihan Tingkat RT

0
Pesawaran (RN) – Dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Desa Bernung, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, menggelar lomba kebersihan lingkungan tingkat RT. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mempererat semangat gotong royong antar warga. Seluruh RT di Desa Bernung turut ambil bagian dengan menata lingkungan, membersihkan saluran air, serta mempercantik kawasan permukiman masing-masing. Kepala Desa Bernung Deswan diwakili Sekertaris Desa Roydup Komar mengatakan, bahwa lomba kebersihan tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT RI, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan budaya hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat. “Melalui lomba ini kami berharap semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan semakin meningkat. Selain memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menciptakan lingkungan desa yang bersih, sehat, dan nyaman,” kata Komar. Ia menjelaskan, Penilaian lomba dilakukan oleh tim yang telah dibentuk dengan sejumlah kriteria, di antaranya kebersihan lingkungan, keindahan tata ruang, pengelolaan sampah, serta partisipasi warga dalam kegiatan gotong royong. “Warga Desa Bernung menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka secara antusias bergotong royong membersihkan lingkungan dan menghias wilayah RT masing-masing dengan nuansa merah putih sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsa dan negara,” ujarnya. “Pemerintah Desa Bernung berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat dalam membangun desa,” tambah dia. Sementara itu, salah satu warga RT 003 Dusun Sido Asri Isah, mengaku sangat mendukung adanya lomba kebersihan tingkat RT yang diselenggarakan pemerintah desa dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. “Melalui kegiatan ini, lingkungan menjadi lebih bersih, rapi, dan indah. Selain itu, warga juga semakin kompak karena bersama-sama bergotong royong membersihkan lingkungan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun,” ularnya. (Rizal)

Kajati Lampung Baru Lantik Wakajati dan Sejumlah Pejabat Eselon III

Lampung (RN) – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Lampung yang baru, Dr. Taufan Zakaria, S.H., M.H., resmi melantik Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Lampung dan sejumlah pejabat eselon III. Pelantikan berlangsung di Gedung Aula Kejaksaan Tinggi Lampung, Rabu (12/8/2026). Taufan Zakaria sendiri baru dilantik oleh Jaksa Agung RI pada Selasa (11/8/2026), menggantikan Danang Suryo Wibowo, S.H., LL.M., yang mendapat penugasan sebagai Direktur II pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung. *Tjakra Suyana Eka Putra, S.H., M.H., sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung di Bandar Lampung. *Subari Kurniawan, S.H., M.H., sebagai Asisten Pembinaan pada Kejaksaan Tinggi Lampung. *Roy Riady, S.H., M.H., sebagai Asisten Pemulihan Aset pada Kejaksaan Tinggi Lampung. *Ibnu Firman Ide Amin, S.H., sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Lampung Selatan. *Ricky Parlin Jahyamanda, S.H., M.Hum., sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Metro. *Sunandar Pramono, S.H., M.H., sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Tanggamus Kajati Lampung Taufan Zakaria menegaskan bahwa pergantian jabatan di lingkungan Kejaksaan bukan sekadar dinamika struktural, tetapi merupakan bagian dari proses pembinaan dan regenerasi kepemimpinan. Menurutnya, proses tersebut penting untuk memperkuat profesionalisme dan integritas aparat penegak hukum dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. “Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum bagi jajaran Adhyaksa Kejaksaan Tinggi Lampung untuk semakin adaptif menghadapi kompleksitas penegakan hukum di era modern,” kata Taufan Zakaria. Ia juga berharap pejabat yang baru dilantik mampu mendorong terwujudnya institusi Kejaksaan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam memberikan kepastian dan keadilan hukum. Dalam kesempatan tersebut, Taufan turut menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para pejabat lama atas dedikasi, kerja keras, serta pengabdian yang telah diberikan selama menjalankan tugas di lingkungan Kejaksaan Tinggi Lampung. “Saudara-saudara telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Lampung. Semoga pengalaman dan prestasi yang telah dicapai menjadi bekal berharga dalam melanjutkan tugas di tempat yang baru,” katanya. Selain itu, Kajati Lampung juga menyampaikan apresiasi kepada para istri pejabat, baik yang baru dilantik maupun pejabat lama, yang selama ini setia mendampingi dan memberikan dukungan kepada suami dalam menjalankan tugas. Ia menilai dukungan keluarga, khususnya doa dan ketulusan para istri, menjadi bagian penting dalam menunjang keberhasilan para pejabat dalam mengemban amanah. “Tanpa andil doa ibu-ibu sekalian, keberhasilan para suami dalam mengemban amanah jabatannya akan jauh dari kata sempurna,” tutur Taufan. “Pelantikan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi jajaran baru Kejaksaan Tinggi Lampung untuk meningkatkan soliditas, profesionalisme, integritas, serta kualitas pelayanan hukum kepada masyarakat di wilayah Lampung,” pungkasnya. (Red)